Ceramah Ilmiah Membangun Karakter Bangsa melalui Museum


Muhaka Onlie, Kemdikbud Jakarta — Visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), “Terselenggaranya layanan prima pendidikan dan kebudayaan untuk membentuk generasi bangsa yang berkarakter”, tentunya perlu didukung peran tiap-tiap unit kerja termasuk museum.

Kepala Museum Nasional, Intan Mardiana, pada acara Ceramah Ilmiah Membangun Karakter Bangsa melalui Museum (27/08) mengatakan museum berperan untuk melakukan  pelestarian warisan budaya termasuk memiliki peran dalam mengedukasi masyarakat. “Tugas kita adalah untuk lebih mengenal budaya bangsa melalui karakter dan ini menjadi tujuan dari pelaksanaan ceramah ilmiah yang rutin dilakukan tiap dua minggu sekali,” tutur Intan.

Sementara itu, nara sumber ceramah ilmiah, Achmad Ferdyani Saifudin, juga menilai membangun karakter bangsa adalah isu penting dan mendesak khususnya melalui museum. Tetapi disayangkan, museum, buku, dan perpustakaan belum mendapat tempat di hati masyarakat. Achmad juga menilai karakter bangsa diduga sudah merosot, menipis, dan menurun dalam dekade terakhir.

Lebih lanjut, Achmad berpendapat kecuali untuk kepentingan akademis dan tugas sekolah, tingkat kunjungan ke museum masih relatif rendah dan orientasi dominan museum masih pada koleksi dan sistem koleksi. “Sejatinya museum menyandang tugas besar sebagai sentra (focal point) dalam membangun karakter bangsa,” ujarnya.

Achmad yang juga sebagai Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia mengusulkan membangun paradigma yang sesuai dengan kehidupan masa kini yaitu dari paradigma atau pendekatan dari sensibel ke narasi dialogis.

Pendekatan sensibel atau panca indra adalah pendekatan dimana pengunjung yang datang ke museum mengandalkan penglihatan mata, menyerapnya, dan selesai. Cara pandang ini hendaknya dikembangkan menuju paradigma dialogis yang menyertakan berbagai hal sesuai dengan gejala trans (batas-batas antar kebudayaan yang semakin bias karena adanya pergerakan masyarakat secara teritorial dan perkembangan teknologi komunikasi).

“Paradigma narasi dialogis ini termasuk ada kemampuan komunikasi, pengetahuan tentang sistem politik, ekonomi, kebudayaan, keanekaragaman etnik, agama dan lain sebagainya. Museum kemudian menjadi arena dimana semua sistem menjadi pembentuk karakter bangsa,” jelasnya.

Implementasinya, menurut Achmad, pengunjung museum dapat berdialog secara internal dan eksternal, misalnya salah satunya melalui peran guide untuk berdialog secara interaktif dan memasukkan pesan-pesan karakter bangsa.

Achmad menyontohkan indikator keberhasilannya, apabila pengunjung yang memasuki museum dapat merasakan percampuran emosi dan meninggalkan kesan mendalam dari kunjungannya, berarti museum telah berhasil melaksanakan perannya.

Achmad juga menyarankan agar berbagai pihak terlibat dalam mendukung pendekatan narasi dialogis termasuk juga mengintegrasikan dengan kurikulum sehingga tercipta hubungan dialogis antara museum dengan sekolah-sekolah. (FA)

Sumber : http://kemdiknas.go.id/kemdikbud

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s