Sejarah Nabi Muhammad SAW


Kelahiran Nabi sampai Kerasulan

muhammad

Menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW situasi masyarakat Mekkah dan sekitarnya pada saat itu mengalami zaman kegelapan atau yang biasa disebut zaman jahiliyah (zaman yang penuh dengan kebodohan). Misalnya, mereka menyembah berhala atau patung yang dia buat sendiri. Di dalam maupun di sekeliling Ka’bah sudah penuh dengan berhala. Jumlahnya lebih dari 360 buah. Di antara berhala itu ada yang bernama Hubal, Latta, Uzza, Manat, Kasaf, dan Nailah.

Di samping itu, mereka juga menerapkan sistem ekonomi yang tidak berpihak pada kaum lemah atau orang miskin. Sistem yang digunakan adalah sistem riba, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Misalnya, kalau ada orang miskin yang meminjam uang Rp. 1.000, maka ia harus mengembalikannya sejumlah, 1.500. Jika ia tidak bisa bayar, maka jumlah hutangnya tambah berlipat-lipat.

Masih banyak lagi kejahiliyahan yang terjadi saat itu, antara lain: adanya sitem perbudakan (manusia disamakan dengan barang milik), pelecehan terhadap wanita, perlakuan istimewa terhadap anak laki-laki. Di tengah kondisi seperti itulah, Nabi Muhammad SAW dilahirkan dan pada saatnya kelak menjadi pemimpin umat yang mampu membawa peradaban manusia ke arah yang lebih baik dan bermartabat.

Nabi Muhammad SAW adalah keturunan bangsa Quraisy. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf. Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf.  Muhammad SAW lahir ke dunia dalam keadaan yatim. Abdullah meninggal dunia pada waktu Nabi Muhammad SAW masih di dalam kandungan, kurang lebih 7 bulan.

silsilah

Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, atau 20 April 571 M. Tahun itu populer disebut dengan Tahun Gajah karena pada tahun tersebut penguasa Yaman yang bernama Abrahah berusaha menyerang dan menghancurkan Ka’bah, namun niat jahat itu gagal karena Abrahah dan pasukannya diserang dan dihancurkan oleh pasukan burung Ababil. Cerita ini diabadikan dalam al-Quran pada surat al-Fiil.

gajahDalam tradisi masyarakat Mekkah waktu itu, bayi yang baru lahir tersebut disusukan dan dititipkan pengasuhannya kepada orang lain. Begitu juga Muhammad SAW, ibunya menyerahkan pengasuhannya kepada Halimah Sa’diyah dari bani Sa’ad, yang lokasinya berada di pedalaman, tak jauh dari kota Mekkah. Setelah lima tahun diasuh oleh Halimah, Muhammad SAW diserahkan kembali ke ibunya.

Setahun kemudian, ketika berusia 6 tahun, Muhammad SAW diajak ibunya ke Madinah untuk berkunjung ke makam Ayahnya. Ketika pulang dari Madinah, di tengah perjalanan, ibunya sakit lalu meninggal dunia. Jasadnya dimakamkan di desa Abwa’, ±23 mil selatan Madinah.

Sepeninggal ibunya, Muhammad SAW diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib selama 2 tahun. Sepeninggal kakeknya, Muhammad SAW diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Saat itu usia Muhammad SAW adalah 8 tahun.

Menikah Dengan Khadijah

Ketika diasuh oleh Abu Thalib, Muhammad SAW seringkali diajak berdagang atau berbisnis oleh pamannya tersebut. Ia seringkali diajak ke luar daerah untuk mengirim dan memasarkan barang dagangan. Muhammad SAW dikenal sebagai sosok remaja yang pekerja keras, ulet dan tekun.

Memasuki usia 25 tahun, Muhammad SAW bekerja di tempat janda dan saudagar yang kaya raya, yaitu Siti Khadijah. Khadijah sangat mengagumi Muhammad SAW karena pekerja keras dan kejujurannya. Lama-kelamaan, Khadijah jatuh hati kepada Muhammad SAW. Dan akhirnya, Siti Khadijah menikah dengan Muhammad SAW. Saat itu, usia Khadijah adalah 40 tahun. Pernikahan ini dikaruniai 6 orang anak: Qasim, Abdullah, Zaenab, Ruqayyah, Ummu Kulsum, dan Fatimah.

keluarga

Muhammad SAW Menjadi Rasul

Pada usia 40 tahun, Muhammad SAW sering berkhalwat (berdiam diri untuk beribadah dengan merenungkan segala sesuatu dan memohon petunjuk kepada Allah). Ini dilakukan seiring dengan berbagai masalah yang dihadapi dan juga kondisi masyarakat Mekkah ketika itu. Tempat yang digunakan untuk berkhalwat adalah Gua Hira’.

Ketia sedang berkhalwat pada malam tanggal 17 Ramadhan, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dari Allah SWT melalui perantara Malaikat Jibril.

“Bacalah!,” malaikat Jibril berkata.

“Aku tidak dapat membaca,” jawab Muhammad SAW.

Demikian percakapan Jibril dan Muhammad SAW ini diulang sampai tiga kali. Akhirnya, malaikat Jibril membacakan wahyu pertama yang turun, yaitu surat al-Alaq, ayat 1-5.

al-alaq

Artinya: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Yang menciptakan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu teramat mulia. Yang mengajarkan dengan pena (tulis baca). Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.  (QS. al-Alaq: 1-5).

sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s