Guru dan Karyawan Nonton Bareng “Sang Pencerah”


Bioskop sekarang bukan hanya milik anak muda saja. Buktinya Bapak, Ibu Guru dan Karyawan SD Muhammadiyah 2 Kauman Surakarta pun ikut nonton bareng “Sang Pencerah” pada hari Sabtu, 2 Oktober 2010. Dimulai pukul 12.00 para Bapak dan Ibu Guru Karyawan sudah siap berkumpul di Studio Theater Plaza Singosaren Solo.

Disaat pemutaran filmpun mereka ikut dalam suasana cerita yang tersajikan. Ada yang terisak tangis ketika melihat Ahmad Dahlan menangis meratapi Langgar Kidul porak-poranda. Ada pula yang tertawa ketika beberapa adegan lucu dari bintang-bintang pemainnya.

Sampai selesai pemutaran film, tampak mereka bersemangat membangun Pergerakan Muhammadiyah seperti apa yang menjadi cita-cita Ahmad Dahlan. “Hidup-hidupilah Muhammadiyah tapi jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Semoga pesan Kyai Ahmad Dahlan itu dapat diaplikasikan bagi seluruh warga Muhammadiyah. Contoh teladan seorang Pemimpin yang siap miskin, susah, luka dan sakit hati demi tegaknya Syariat Islam.

Sinopsis Film Sang Pencerah :

Jogjakarta 1867 -1912:

Sepulang dari Mekah, Darwis muda (Ihsan Taroreh) mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah /sesat

Melalui Langgar / Surau nya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) sehingga surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda.

Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman

Ahmad Dahlan
Iklan

10 thoughts on “Guru dan Karyawan Nonton Bareng “Sang Pencerah””

  1. hemmmmm…. Benar2 sosok tauladan Kyai Ahmad Dahlan itu…. Sampai tak bisa ku lukiskan dengan kata2. sebelum nonton dengan rekan2 kerja aq dah nonton dng suami dan anak2ku. saat pertama nonton Sang Pencerah…..keluar dr gedung Bioskop mataku masih agak merah mengingat langgar Kidul di robohkan. Setelah sampai rumah aq merasa sangaaaat malu dengan diriku… Apa yang sudah mampu ku perbuat untuk Allah dan Dien-Nya. berkaca pd Kyai Ahmad Dahlan yg pantang menyerah n tetap berjuang menegakkan Syari’ah islam….meski sampai di sebut kyai Kafir….!!!! aku benar2 malu dengan diriku sendiri…

  2. Wah …, seru juga nonton bareng teman2 Bpk / Ibu guru & karyawan!!
    Lebih2 filmnya bagus, baik dari penyutradaraan, jalan cerita, dan penghayatan tokohnya. ” Perjuangan seorang pemimpin yang berani mengubah hal-hal yang tidak benar demi tegaknya syariat Islam.” Tapi… kok rasanya durasinya terlalu pendek, coba lebih lama lagi pasti lebih seru..!

  3. Wah coba kalo semua pimpinan kita memahami kalimat yang dicetak tebal di artikel diatas “Contoh teladan seorang Pemimpin yang siap miskin, susah, luka dan sakit hati demi tegaknya Syariat Islam.” ada gak ya jaman sekarang???????

  4. Boleh juga acara nonton bareng “sang pencerah”. walaupun itu instruksi dar majelis tapi sisi baiknya juga mengenalkan bioskop ke bapak-ibu guru SD Muh 2. kalo gak getooo…mungkin ada beberapa diantara mereka yang belum pernah nonton bioskop. Dijadikan acara rutin aja….itu baru SSSSiiiiiiiiiiiPPPPP….!!!!

  5. Pada dasarnya pemimpin umat semestinya adalah mereka yang berjiwa PENDOBRAK sekaligus PENCERAH pada jamannya. Dibutuhkan keberanian yang kaffah, baik fisik maupun pemikiran untuk dapat melakukan pencerahan bagi umat. Secara prinsip haqiqinya pemimpin umat selalu melakukan perlawanan terhadap kesewenangan dan kezaliman kaum penjajah maupun penguasa, sejak jaman para nabi hingga kini. Penjajah, penguasa maupun pemerintah acapkali memaksakan kehendak untuk kepentingan langgengnya kekuasaan dengan segala cara dalam berbagai aspek kehidupan manusia, sehingga banyak tindakan yang menekan, memaksa, menindas umat. Inilah yang seharusnya menjadi mindset (fokus utama) para pemimpin umat untuk memberikan pencerahan bagi umatnya.
    Kyai Dahlan adalah salah satu figur yang pada jamannya mampu membuktikan bahwa beliau memang pemimpin umat sejati, sekaligus menjadi inspirasi bagi pemimpin umat masa kini untuk tetap melanjutkan perjuangan beliau sampai kapanpun sebagai SANG PENCERAH.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s