[Sebuah kisah motifasi] “Walau Tidak Punya Otak Tapi Aku Punya Hati.”


Alkisah di suatu masa, Ahmad (nama fiktif) adalah seorang dari keluarga yg tidak punya dan sangat bodoh, tapi hebatnya dia suka tersenyum menyenangkan hati orang lain yang melihatnya. Ayahnya menginginkan dia menjadi seorang alim. Sang Ayah bekerja keras serta pinjam uang sana dan sini hanya demi keinginannya menyekolahkan si Ahmad.

Hingga cukup uangnya, si Ahmad diantarkan ke sebuah pondok pesantren di daerah pesisir pantai Utara Jawa. Tapi Ahmad tahu ia tidak mungkin bisa mewujudkan impian sang Ayah, karena setiap ia mulai mempelajari sesuatu, kepalanya pusing snuut…snuut… “

Tetapi si Ahmad tetap tersenyum membanggakan ayahnya. Mulailah keseharian si Ahmad nyantri di pondok. Setelah beberapa hari mondok tiba-tiba ia tidak kelihatan sepanjang hari sedang sore harinya baru kelihatan, begitu seterusnya hingga sang Kyai mencari tahu apa yang terjadi tapi ia tersenyum terhadap apa yang dilakukan si Ahmad. hal itu berlangsung bertahun-tahun.

Tahu apa yang dilakukan si Ahmad? …. Mancing ….!!

Ahmad tahu belajar adalah pekerjaan yang menyakitkan kepalanya. Hal baik yang bisa ia lakukan adalah membagikan ikan yang  dia dapat untuk teman-temannya sekaligus membantu pondok tempat dimana dia nyantri. Dengan gembira teman-temannya pun ikut menikmati hasil memancing si Ahmad.

Setiap liburan Ahmad yang pulang ke rumah sering ditanya ayah ibunya, bagaimana dipondok, pelajarannya, teman-temannya dsb, jawabnya sambil tersenyum, “Alhamdulillah aku bisa mengikuti, doakan aku jadi anak alim seperti keinginan ayah”. (padahal kerjaanya si Ahmad di pondok cuman mancing)

Karena kebaikan hatinya sepertinya Allah mendengar doa ke dua orang tuanya, suatu hari si Ahmad ketika memancing ada seorang nelayan tua yang mengajaknya memancing di tengah laut. Si Ahmad merasa senang bisa ikut karena dia belum pernah merasakan mancing di lautan. Selama perjalanan si nelayan tua banyak bercerita tentang penciptaan langit dan bumi, membaca peta bintang, arah angin, tempat berkumpulnya ikan dan berbagai ilmu lainnya yang tanpa sadar dengan mudah si Ahmad bisa menerimanya dan dengan mudah dia hapalkan. Si Nelayan mengajarinya membaca tanda-tanda yang berbunyi (huruf dan angka) menghubungkan tanda-tanda itu dengan proses penciptaan alam semesta. Semua yang disampaikan berintikan Maha Besar Allah atas segala ciptaan-Nya. Si Ahmad mendengarkan dengan sungguh-sungguh sampai lupa berapa ikan yang dia dapat sudah lebih dari sekeranjang.

Seperti biasanya si Ahmad pulang membawa ikan, tapi ikan yang dibawa lebih banyak dari biasanya.

Keesokan harinya tanpa sang Kyai yang ngajar pondok menyampaikan sebuah materi tentang ayat-ayat penciptaan alam semesta, tetapi herannya pak Kyai mengatakan dari sekian santri hanya satu yang sudah paham sebelumnya dan ia tidak pernah ada disini… itulah si Ahmad.

Saking penasarannya Alif (nama fiktif) salah seorang temannya mendatanginya selepas isya. Alif pun bertanya macam-macam, si Ahmad pun dengan ragu menerangkan sebatas ia tahu. Alif manggut-manggut heran, dikeluarkan buku yang dipelajarinya tadi, ditanyakan maksud-maksud ayat itu… hehehe ternyata Ahmad bisa membaca karena tanda-tanda itu ia ketahui waktu bersama si nelayan tua, maksudnya pun dia paham karena si nelayan tua pernah bercerita kepada nya. Mulai saat itu tidak ada yang sulit bagi si Ahmad untuk belajar baginya semua terasa mudah karena teringat pada senyum si nelayan tua ketika bercerita.

Akhir cerita Walau (si Ahmad) tidak punya otak (baca: Bodo) tapi aku punya hati, memberi pelajaran kepada kita bahwa PINTAR tidak membawa kita ke surga tapi KEBAIKAN HATI serta DOA orang-orang yang menyayangi kita, insya Allah memudahkan kita menemukan jalan keberhasilan dunia dan akherat. Amin.

SELAMAT BERBUAT BAIK SEMAMPUNYA.

diposkan oleh : intoni yoga